Berita

Rekonstruksi Pendidikan Harus Dimulai dari Kebiasaan Kecil

rekonstruksi pendidikan

Abdul Mu’ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, di awal kepemimpinannya menyampaikan beberapa kebijakan pendidikan yang akan diterapkan pada tahun 2025. Beberapa kebijakan rekonstruksi pendidikan tersebut mencakup pengkajian ulang Kurikulum Merdeka, kebijakan zonasi, hingga evaluasi kembali Ujian Nasional.

Rekonstruksi pendidikan yang dilakukan oleh menteri, sekaligus Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut ditujukan untuk mewujudkan visi pendidikan bermutu bagi semua kalangan. Hal ini pun menjadi kajian dalam kegiatan Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat Mahasiswa (SIBISA) yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) di UMY Student Dormitory, Jumat (28/2).

Dra. Lusi Mugiyani, Board of Director ECCD RC (Early Childhood Care & Development Resource Centre), yang juga memiliki pengalaman langsung dalam pembuatan peta jalan di Direktorat PAUD Kemendikbud, mengatakan bahwa konsep yang dibangun oleh pemerintah di tingkat pusat sering kali sudah sangat bagus. Namun, terjadi ketimpangan dalam hal implementasi di lapangan. Padahal, untuk melakukan rekonstruksi pendidikan, tidak harus selalu dimulai dengan melakukan perubahan besar.

Rekonstruksi pendidikan harus dimulai dari kebiasaan kecil. Misalnya, di tingkat pelajar, terdapat tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat, yaitu bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur lebih awal. Ia menekankan bahwa kebiasaan-kebiasaan kecil ini sangat kontekstual dan berdampak besar.

“Itu hal kecil, tetapi jika dilakukan secara konsisten, dampaknya akan sangat besar. Karena anak zaman sekarang, sepulang sekolah langsung bermain gawai dan tidak bersosialisasi. Jadi, jika ingin melakukan perubahan, mulailah dari pembiasaan,” tandasnya.

Senada dengan Lusi, Dr. Hardi Santosa, M.Pd., Majelis Dikdasmen Pimpinan Pusat Muhammadiyah juga menegaskan bahwa rekonstruksi pendidikan tidak selalu berarti harus ada perubahan besar secara drastis. Menurutnya, saat ini, ada permasalahan besar di kalangan anak muda, yaitu sulit tidur lebih awal, yang berdampak pada gangguan konsentrasi dan distraksi akibat terlalu sering menggunakan gawai.

“Padahal, apa yang kita baca, kita lihat, dan kita dengar tanpa sadar membangun konstruksi berpikir kita. Konstruksi berpikir ini kemudian melahirkan sikap, perilaku, dan kebiasaan yang membentuk kepribadian kita, dan itu adalah proses yang panjang,” terangnya.

Jika anak muda dapat tidur lebih awal, berolahraga, makan sehat, dan bermasyarakat, maka ketika kebiasaan ini menjadi siklus hidup, dampaknya akan sangat besar di masa depan. Ia pun mengajak mahasiswa untuk memastikan agar mereka dapat menjadi bagian dari peradaban melalui pendidikan agar dapat dikenang sebagai “maha”-nya para siswa.

“Jika terjadi banyak perubahan tetapi kita hanya menjadi penonton, maka kita tidak akan tercatat sebagai apa pun. Almamater kita mungkin hanya akan tergantung di dalam lemari. Keberhasilan pendidikan Indonesia di masa depan sangat bergantung pada bagaimana kita membangun kesadaran dan kebiasaan-kebiasaan kecil yang dapat membawa perubahan besar bagi masa depan bangsa,” tegas Hadi.

Oleh karena itu, ia pun memberikan rekomendasi kepada pemerintah untuk memberikan akses pendidikan yang lebih luas kepada masyarakat, terutama di daerah-daerah terpencil. Sumber daya manusia (SDM) harus dipersiapkan agar dapat bersaing di tingkat global, salah satunya dengan memberikan beasiswa. (Mut)